• Obat Kesedihan, Tauhid pemahaman yang benar tentang Allah..//

    Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuhu…
    Bismillaahirrohmaanirrohiim …..

    OBAT KESEDIHAN Jumat, 18 Juli 08

    Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
    Marilah kita bersyukur kehadirat Allah Subhanahu wata’ala atas segala nikmat yang telah tercurah kepada kita. Semoga Allah Subhanahu wata’ala memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hambaNya yang bersyukur, sehingga Allah akan menambah pemberiaan nikmatNya. Sesungguhnya Allah memberikan rizki kepada siapa saja yang dikehendakiNya dengan tanpa batas, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

    فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنبَتَهَا نَبَاتاً حَسَناً وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقاً قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَـذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللّهِ إنَّ اللّهَ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

    “Maka Rabbnya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata:”Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini” Maryam menjawab:”Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (QS. Ali ‘Imran: 37)

    Kaum Muslimin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,
    Keimanan seseorang bisa berubah-ubah, dapat meningkat juga dapat merosot tajam. Keimanan akan meningkat dengan amalan shalih yang dikerjakan. Dan kemerosotannya disebabkan terjadinya pelanggaran syari’at dan maksiat. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan keimanan dengan hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim dalam Mustadrak dengan sanad hasan, “Sesungguhnya keimanan dapat menjadi lekang, bagaikan baju yang bisa berubah usang. Karena itu, mintalah kepada Allah agar Allah memperbaharui iman dalam hati kalian.”

    Kita harus memonitor keimanan yang merupakan barang paling berharga yang kita miliki. Kita mesti mengontrol amalan yang selama in biasa kita lakukan. Jangan sampai terjadi kemerosotan, apalagi sampai keimanan hilang dari dada. Kemerosotan iman saja sangat merugikan manusia, apalagi jika seseorang murtad, keluar dari agama Islam, sudah tentu kerugian dunia akhirat pasti didapat. Sahabat Abu Darda Radhillahu ‘anhu berpesan, “Termasuk tanda kecerdasan seorang (hamba) Muslim, ia selalu mengetahui apakah imannya sedang naik ataupun menurun.”

    Oleh karena itu marilah kita meningkatkan taqwa kita kepada Allah ta’ala karena taqwa adalah sebaik-baik bekal bagi seorang hamba dalam mengarungi kehidupan dunia dan akhirat.

    Kaum Muslimin Rahikumullah,

    Kehidupan manusia tidak selamanya bahagia. Manusia tidak terlepas dari yang namanya kesedihan, kesusahan, kesempitan dan berbagai macam musibah yang menimpa hati. Kondisi yang seperti ini menimpa seluruh manusia, kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah.

    Dan setiap manusia memiliki cara tersendiri untuk mengobati penyakit tersebut. Dan tidak jarang cara-cara tersebut hanya bisa menghilangkan kesedihan sementara, lalu setelah itu justru mendatangkan kesengsaraan yang bertambah parah. Maka kita dapatkan kebanyakan mereka menghilangkan kesedihan dengan minum-minuman keras, mengkonsumsi narkoba, merokok mendatangi dukun, mendengarkan musik dan lain-lain yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah. oleh sebab itu bukanlah ketenangan dan kelapangan hati yang mereka dapatkan tetapi justru kesempitan dan kesengsaraanlah yang mereka rasakan, karena mereka telah jauh dari tuntunan Islam. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

    وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

    “Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha: 124)

    Kaum Muslimin Rahimakumullah,
    Adapun kita kaum Muslimin, maka kita memiliki cara tersendiri untuk menghilangkan penyakit tersebut, tentunya dengan obat-obat yang telah diberikan oleh Allah dan RasulNya. Obat yang pertama adalah kita meyakini bahwa kesedihan dan kesusahan yang menimpa kita, sudah ditaqdirkan oleh Allah, maka ketika kita menyadari hal tersebut akan tenanglah hati kita dan lapanglah dada kita.

    Kemudian obat berikutnya adalah do’a yang dicontohkan oleh Rasulullah dalam menghadapi kesedihan. Ini sebagaimana yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu bahwasannya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

    مَا أَصَابَ عَبْدًا هَمٌ وَلاَْ حُزْنٌ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ، وَابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صدَْرِي، وَجِلاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي وَغَمي إِلا أَذْهَبَ اللَّهُ هَمَّهُ وَغَمهُ، وَأَبْدَلَهُ مَكَانَ حُزْنِهِ فَرَحًا

    “Tidaklah seorang hamba tertimpa kesusahan dan kesedihan kemudian dia berdo’a, “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hamba laki-lakiMu, dan anak hamba perempuanMu, ubun-ubunku di tanganMu, berlaku kepadaku hukumMu, adil atasku QadhaMu (keputusanMu), aku meminta kepadaMu dengan seluruh nama-namaMu (yaitu) yang Engkau namakan diri Engkau dengan nama tersebut, atau yang Engkau turunkan di kitabMu, atau yang Engkau ajarkan kepada kepada salah satu hambaMu, supaya Engkau menjadikan al-Qur’an penyiram hatiku, cahaya dadaku, pengusir kesedihanku, penghilang kecemasan dan kegelisahan, kecuali Allah akan menghilangkan kesusahannya dan menggantinya dengan kesenangan.”

    Tentunya di dalam berdo’a dengan do’a di atas kita harus faham dengan makna yang terkandung di dalam do’a tersebut, supaya kita menghadirkan hati kita di dalam berdo’a. Karena Allah tidak menerima do’a seorang yang hatinya lalai, dan salah satu sebab kelalaian tersebut adalah tidak fahamnya kita dengan kandungan makna do’a tersebut.

    Maka Ibnu al-Qayim Rahimahullah menjelaskan kandungan makna do’a tersebut sebagai berikut:

    *

    Pengakuan seorang hamba bahwa dia adalah hamba Allah, seorang makhluk yang harus tunduk dan patuh terhadap semua perintah, dan ini menunjukkan bahwa dia tidak bisa lepas dari pertolongan Allah, walaupun hanya sekejap mata. Ini juga menumbuhkan keyakinan bahwa hanya Allahlah yang bisa menghilangkan kesedihannya.

    *Persaksian dia bahwa ubun-ubunnya, dan ubun-ubun seluruh makhluk berada di tangan Allah, oleh sebab itu dia tidak merasa takut dengan makhluk karena dia sadar bahwa dia dan makhluk lain sama kedudukannya sebagai seorang hamba, dan makhluk yang lain tidak bisa memberikan manfaat maupun menimpakan mudharat kepada dirinya.

    *Memulai do’anya dengan tawassul yang disyari’atkan, yaitu dengan bertawassul dengan nama-nama Allah, baik yang diketahui oleh manusia maupun yang tidak. Ini adalah dalil bahwa nama-nama Allah tidak terbatas jumlahnya, karena di antara nama-nama Allah ada nama-nama yang hanya Allah sendiri yang tahu, berarti sesuatu yang tidak bisa diketahui oleh manusia tidak mungkin bisa dihitung.

    *Dalam do’a ini terkandung permintaan seorang hamba supaya Allah Ta’ala menjadikan al-Qur’an sebagai “Rabi’” bagi hatinya. Rabi’ adalah air hujan, maka Nabi menyerupakan menyerupakan al-Qur’an dengan air hujan, karena sebagaimana air hujan menumbuhkan bumi, maka al-Qur’an pun menghidupkan hati. Dan apabila hati kita hidup, maka hiduplah seluruh anggota badan kita.

    *Kemudian permintaan hamba supaya al-Qur’an dijadikan cahaya bagi dadanya, karena dada yang bercahaya dan hati yang hidup adalah sumber kelapangan dan kebahagiaan seseorang.

    *Permintaan seorang hamba supaya Allah menjadikan al-Qur’an penghilang kesedihannya, karena kalau kesedihan dihilangkan dengan al-Qur’an, maka kesedihan tersebut tidak akan kembali. Berbeda halnya apabila dihilangkan dengan selainnya seperti harta, anak, istri, jabatan atau apapun selainnya, maka kesedihan akan kembali ketika obat-obat selain al-Qur’an itu pergi.

    * Dianjurkan bagi yang mendengar hadits ini untuk mengamalkannya sebagaimana perintah Nabi kepada para sahabatnya pada hadits di atas.

    Maka kesimpulannya, kesedihan dan kesempitan hati tidak akan bisa dihilangkan kecuali dengan tauhid/ pemahaman yang benar tentang Allah, dan dengan al-Qur’an yaitu dengan menjadikan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi hidup kita, yang senantiasa kita pahami serta kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

    أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
    Khutbah yang kedua

    إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَلِيُّ الصَّالِحِينَ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَمُ الأَنْْْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ., أَمَّابعد,

    Kaum Muslimin Rahimakumullah
    Itulah obat yang dicontohkan oleh Nabi untuk menghilangkan kesedihan dan kesusahan dan ini menunjukkan betapa sempurnanya agama kita. Tidaklah ada satu kebaikan pun kecuali kita sudah dijelaskan dan tidaklah ada satu keburukan pun kecuali kita sudah diperingatkan untuk menjauhinya.

    Kemudian kita juga diharuskan untuk menjauhi sebab-sebab munculnya kesedihan dan kesempitan hati yaitu dengan menjauhi sikap berpaling dari al-Qur’an sebagaimana firman Allah,

    وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

    “Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha: 124)

    Akhirnya marilah kita berdo’a semoga Allah memberikan kepada kita keistiqamahan di dalam ilmu yang shalih dan amal yang shalih.

    Oleh: Sujono

  • Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuhu…

    Bismillaahirrohmaanirrohiim…..

    Doa, Sarana Pelembut Hati
    Zulhamdi
    E-mail Print PDF
    Tuesday, 13 Dzulhijjah 1430

    فَلَوْلا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ

    “Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, akan tetapi hati mereka telah menjadi keras.” (QS. Al-An’am: 43)

    Allah menjadikan doa sebagai ibadah, begitulah sabda Rosulullah: الدعاء هو العبادة “Doa adalah Ibadah” bahkan doa bisa sebagai sarana untuk mencapai posisi yang tinggi bagi seorang hamba di sisi Allah. Kenapa bisa demikian? Bukankah ketika seseorang meminta kepada orang lain harga dirinya menjadi jatuh dan rendah di hadapan orang lain. Itulah bedanya manusia dengan Pencipta-Nya.

    Ketika Allah memerintahkan hamba-Nya berdoa, Ia menjadikan doa itu sebagai sarana pengharapan, meminta keperluan dan bersandar kepada Allah. Hakikat doa sebenarnya adalah menampakkan kefakiran kepada Allah, berlepas dari segala bentuk kekuasaan dan kekuatan, merasakan kehinaan sebagai manusia, juga sebagai sarana untuk memuji Allah, pengakuan hamba terhadap kemuliaan Allah. Maka ketinggian derajat seorang hamba adalah tatkala ia menjadi dekat dengan Allah. Bahkan doa itu menjadi sesuatu yang paling mulia bagi Allah, Rosulullah bersabda:

    لَيْسَ شَىْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ مِنَ الدُّعَاءِ

    “Tidak ada sesuatupun yang paling mulia bagi Allah dari doa” (HR. Ahmad)

    Doapun dapat menjadi sarana pelembut hati, bahkan kekerasan hati itu terjadi karena adanya kesombongan dalam diri dengan tidak pernah memuji Allah dan merasa perlu dengan Allah. Al-Quran mengungkapkan hal ini:

    فَلَوْلا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ

    “Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, akan tetapi hati mereka telah menjadi keras.” (QS. Al-An’am: 43)

    “Hati yang tak terdorong oleh kesulitan untuk kembali kepada Allah adalah hati yang telah membatu yang di dalamnya tidak ada lagi ruang untuk tersadarkan oleh kesulitan itu! Juga hati itu telah mati sehingga tidak terpengaruh oleh perasaan! Perangkat penerima fitrahnya telah macet. Sehingga, tidak lagi merasakan guncangan yang membangunkan ini, yang membangkitkan hati yang hidup untuk menerima dan mematuhi panggilan Ilahi”. Begitulah kira-kira ungkapan Ustadz Sayyid Qutb ketika mengomentari ayat di atas.

    Beliau melanjutkan: “Kesulitan adalah cobaan yang diberikan Allah untuk hamba-Nya. Jika manusia itu hidup hatinya, maka dengan kesulitan itu kunci-kunci hatinya akan terbuka, dan mendorongnya untuk bersimpuh ke hadapan Allah.”

    Oleh sebab itulah banyak berdoa kepada Allah akan semakin memperbanyak kebaikan yang diraih, kebaikan yang bersifat batin ataupun yang nampak di depan mata, kebaikan batinnya adalah akan merasa semakin dekat dengan Allah, memujinya, mengagungkannya, merasa selalu memerlukan Allah dan hati menjadi lembut. Kebaikan yang dapat dilihat adalah ketika doa itu dikabulkan oleh Allah, bahkan tidak dikabulkannya doa itupun adalah merupakan sebuah kebaikan, sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits.

    عَنْ أَبِى سَعِيدٍ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ: اللَّهُ أَكْثَرُ

    Dari Abi Said Al-Khudri ra, Rosulullah saw bersabda: “Tidaklah seseorang yang berdoa kepada Allah dengan doa yang tidak mengandung dosa, atau memutus silaturrahim, kecuali Allah akan memberikan kepadanya salah satu dari tiga hal berikut: dikabulkan doanya, atau disimpan untuknya kebaikan yang serupa, atau dihilangkan keburukan darinya. Maka para sahabat berkata, “Ya Rosulullah kalau begitu kami akan memperbanyak doa”. Rosulullah menjawab: “Bahkan yang disisi Allah lebih banyak lagi.”

    Wallahu a’lam bisshowab.

    Oleh Zulhamdi M. Saad, Lc

    ==============


    your comment
  • Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuhu…
    Bismillaahirrohmaanirrohiim…. …

    Faktor-faktor Pendorong Mengingat Kematian dan Zuhud Terhadap Dunia

    Kematian bagi setiap manusia adalah sebuah kepastian yang tak mungkin dihindarkan. Berapapun panjangnya usia seseorang, bila saatnya tiba, malaikat maut pasti akan datang kepadanya di saat ajalnya sudah sampai. Namun, tetap saja sebagian manusia lupa terhadap sesuatu yang pasti seperti kematian ini, buktinya tidak ada persiapan untuk menghadapinya dan terus berlomba mengejar fatamorgana kenikmatan dunia yang tidak pernah berakhir. Mengingat mati adalah suatu kemestian bagi setiap muslim agar lebih giat beribadah dan tidak terbuai dengan segala kehidupan dunia dari dua sisinya, senang dan sedih, kaya dan miskin, bahagia dan derita. Selalu sabar dalam menghadapai berbagai cobaan hidup dan tidak terbuai dengan segala kenikmatan dunia, karena ia selalu ingat bahwa semua itu pasti akan ditinggalkannya bila saat tiba.

    Berikut ini adalah beberapa hal yang mengingatkan terhadap mati dan mendorong bersifat zuhud dalam dunia.

    Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah RA , ia berkata, ‘Nabi berziarah ke kubur ibunya, lalu beliau menangis dan membuat menangis orang-orang yang ada di sekitarnya, maka beliau bersabda:
    اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِى أَنْ أَزُوْرَ قَبْرَهَا فَأَذِنَ لِي فَزُوْرُوْا اْلقُبُوْرَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

    “Aku meminta ijin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan untuknya, maka aku tidak diijinkan. Dan aku meminta ijin untuk ziarah ke kuburnya, maka Dia mengijinkan, maka ziarahlah ke kuburan, sesungguhnya ia mengingatkan mati.”

    Dari Abdullah bin Mas’ud RA , ia berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:
    كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا فَإِنَّهَا تُزَهِّدُ فِى الدُّنْيَا وَتُذَكِّرُ اْلآخِرَةَ
    “Dahulu aku melarangmu ziarah kubur, maka sekarang ziarahlah, sesungguhnya ia membuat zuhud terhadap dunia dan mengingatkan akhirat.”

    Dalam hadits di atas dijelaskan bahwa salah satu pendorong agar selalu ingat terhadap kematian adalah melakukan ziarah kubur, karena hal itu sangat membantu bagi setiap orang agar selalu ingat terhadap mati dan tidak mungkin lagi kembali lagi ke dunia yang fana ini.

    Ziarah kubur bagi laki-laki adalah sunnah menurut kesepakatan para ulama dan diperselisihkan bagi wanita, dan pendapat yang shahih adalah haramnya ziarah bagi perempuan, karena kutukan bagi wanita yang ziarah kubur yang dijelaskan oleh Nabi SAW. Wallahu A’lam.

    Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib RA , bahwa dia pergi ke kuburan, tatkala sudah sampai ia berkata, ‘Wahai para penghuni kubur, ceritakanlah kepada kami tentang kamu atau kami menceritakan kepadamu. Adapun berita orang yang sebelum kami: maka harta (yang dulu kamu kumpulkan) telah dibagi, wanita-wanita (yang dulu menjadi istrimu) telah menikah, dan tempat tinggal telah dihuni oleh kaum selain kamu.’ Kemudian ia berkata, ‘Demi Allah, jika mereka sanggup niscaya mereka berkata, ‘Kami tidak melihat bekal yang lebih baik dari pada taqwa.”

    Sungguh indah ungkapan Abul ‘Atahiyah dalam sebuah sya’ir:
    Sungguh mengherankan bagi manusia jika mereka berfikir - menghisab diri mereka sendiri lagi melihat

    Mereka melewati dunia menuju negeri yang lain – sesungguhnya dunia bagi mereka hanyalah tempat menyeberang

    Tidak ada kebanggaan kecuali kebanggan orang yang taqwa – besok apabila padang mahsyar mengumpulkan mereka

    Sungguh agar manusia mengetahui bahwa taqwa - dan kebaikan adalah sebaik-baik simpanan
    Aku merasa heran terhadap manusia dalam kebanggaannya – sedang dia esok hari akan dimakamkan di dalam kuburnya

    Apakah perkara orang yang asal mulanya adalah setetes mani – dan akhirnya menjadi bangkai (kenapa ia berani) berbuat fasik.

    Jadilah ia tidak memiliki apa-apa yang bisa diharapkan – dan tidak bisa menunda apa-apa yang ditakutkan. Dan jadilah perkara kepada selainnya – dalam setiap yang diputuskan dan ditentukan.

    Para ulama berkata: tidak ada yang paling berguna untuk hati selain ziarah kubur, terutama hati yang keras, maka orang yang memiliki hati yang keras harus mengobatinya dengan empat perkara, salah satunya adalah ziarah kubur ini :

    Pertama, menghentikan kebiasaan buruknya di masa lalu dengan cara menghadiri majelis-majelis ilmu, nasehat, dan zikir, mendengarkan ancaman dan anjuran, serta cerita orang-orang shalih. Sesungguhnya hal itu termasuk yang melembutkan hati.

    Kedua, ingat terhadap mati, maka ia memperbanyak ingat terhadap yang menghancurkan kenikmatan, meninggalkan jamaah, dan membuat anak-anak menjadi yatim piatu. Diriwayatkan bahwa seorang perempuan datang kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengadukan hatinya yang keras. Maka ia berkata, ‘Perbanyaklah ingat mati, niscaya hatimu menjadi lembut.’ Lalu ia melakukan dan hatinya menjadi lembut. Maka ia datang kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha untuk mengucapkan terima kasih kepadanya. Para ulama berkata: ingat terhadap mati menghentikan berbuat maksiat, melembutkan hati yang keras, menghilangkan kesenangan dunia, dan memudahkan segala musibah dunia.

    Ketiga, menyaksikan orang yang menjelang kematian (saat sakaratul maut). Sesungguhnya memperhatikan mayat dan menyaksikan saat sakaratul mautnya, membayangkan rupanya setelah matinya adalah yang memutuskan kenikmatannya dari jiwa, mengusir kesenangannya dari hati, dan menghalangi kelopak mata untuk tidur, serta menghalangi badan untuk beristirahat, mengbangkitkan semangat beramal, dan menambah bersungguh-sungguh dalam ibadah.

    Diriwayatkan bahwa al-Hasan al-Bashri menengok orang sakit, ternyata dia sedang sakaratul maut, lalu ia memperhatikan kesusahannya dan beratnya yang dialaminya. Lalu ia pulang kepada keluarganya dengan raut muka yang berbeda saat ia keluar rumah meninggalkan mereka, maka mereka bertanya kepadanya: ‘Apakah engkau ingin makan semoga Allah SWT memberi rahmat kepadamu.’ Ia menjawab, ‘Wahai keluargaku, ambilah makanan dan minumanmu, demi Allah, sesungguhnya aku telah melihat kematian, aku akan terus beribadah hingga bertemu dengan-Nya.’

    Inilah tiga resep yang sepantasnya bagi orang yang keras hatinya dan selalu berlumur dosa, agar meminta bantuan dengannya dan meminta tolong dengannya terhadap berbagai fitnah syetan dan penyesatannya. Jika hal itu bermanfaat maka itulah yang terbaik. Dan jika karat hati sudah terlalu besar dan pendorong berbuat dosa terlalu kuat, maka ziarah kubur adalah faktor penyembuh yang paling kuat, melebihi yang pertama, kedua, dan ketiga. Nabi SAW bersabda:

    لَيْسَ الْخَبَرُ كَالْمُعَايَنَةِ
    “Kabar itu tidak seperti kenyataan.’

    Menyaksikan orang yang hampir meninggal dunia adalah saat-saat yang sangat menyentuh hati, namun mengambil pelajaran dengan orang yang sakaratul maut tidak bisa dilakukan setiap saat. Berbeda dengan ziarah kubur, adanya lebih cepat dan mengambil manfaat dengannya lebih pantas dan sangat pasti. Maka yang melakukan ziarah hendaknya disertai adab-adab dan menghadirkan hatinya dalam mendatanginya, jangan hanya berkeliling pemakaman tanpa makna, hal seperti itu tidak berbeda dengan binatang –kita berlindung kepada Allah SWT dari hal itu-. Tetapi hendaklah ia berniat karena menjunjung perintah Allah SWT dan bertujuan memperbaiki rusak hatinya, menghindari berjalan di atas kuburan dan duduk di atasnya bila memasuki pemakaman, melepas sendalnya, seperti disebutkan dalam beberapa hadits. Hendaklah ia juga memberi salam kepada para penghuni kubur dan berbicara kepada mereka seperti kepada orang yang masih hidup seraya membaca:

    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ
    Semoga kesejahteraan tercurah kepadamu, wahai negeri orang-orang yang beriman.
    Seperti itulah yang dibaca Rasulullah SAW. Dan apabila ia telah sampai ke kubur seseorang yang dikenal dan ingin diziarahinya, ia membaca: ‘Alaikas salaam. Sebagaimana diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam sunannya, sesungguhnya seorang laki-laki berkunjung kepada Rasulullah SAW seraya berkata, ‘Alaikas salaam.’ Maka Nabi SAW bersabda, ‘Janganlah engkau mengatakan: ‘Alaikas salaam, karena ‘alaikas salaam itu adalah penghormatan kepada mayit.”

    Hendaklah orang yang ziarah menghadapkan wajahnya kepada mayit, seperti semasa hidupnya. Kemudian ia mengambil pelajaran dengan orang yang telah berada di bawah tanah, terputus dari keluarga dan orang-orang yang dicintai. Setelah sebelumnya ia memimpin tentara, bersaing dengan teman dan handai taulan, dan mengumpulkan harta dan simpangan. Lalu kematian datang menjemputnya di saat yang tidak diduganya. Peziarah hendaknya merenungkan keadaan teman-teman dan saudara-saudaranya yang telah mencapai cita-cita dan mengumpulkan harta. Bagaimana terputus cita-cita mereka dan harta sudah tidak berguna lagi. Tanah sudah menghapus keindahan wajah mereka dan sendi-sendi tubuh terpisah-pisah di dalam kubur.
    Wallahu A’lam.

    المرجع: التذكرة في أحوال الموتى وأمور الآخرة للإمام القرطبي ، دار الحديث - القاهرة تحقيق عصام الدين الصبابطي، ط 1 -1424هـ
    Dikutip dari kitab:

    - at-Tadzkiran fi ahwalil mauta wa umuril akhirah (Peringatan tentang keadaan orang-orang yang mati dan keadaan akhirat), bab: maa yudzakkirul maut wa lil akhirat, dan yuzahhidu fid dunya (Sesuatu yang mengingatkan mati dan akhirat, serta membuat zuhud terhadap dunia).

    http://www.islamhouse.com/p/180854


    your comment
  • Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuhu…
    Bismillaahirrohmaanirrohiim

    بسم الله الرحمن الرحيم

    AKHLAK MULIA : Abdul Malik Al-Qasim

    Segala puji bagi Allah yang menciptakan segala sesuatu, membaguskan penciptaan-Nya dan menyusunnya. Dialah yang mendidik nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan dengan sebaik-baik pembinaan. Wa ba’du :

    Sesungguhnya kemuliaan akhlak merupakan salah satu dari sifat-sifat para nabi, orang-orang shiddiq dan kalangan shalihin. Dengan sifat ini, berbagai derajat dapat dicapai dan kedudukan-kedudukannya ditinggikan. Sesungguhnya Allah Jalla wa ‘Ala mengistimewakan nabi-Nya, Muhammad dengan ayat yang menghimpun baginya segala kemuliaan akhlak dan segenap kebaikan tata pekerti, maka Allah Jalla wa ‘Ala berfirman :
    وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ ﴿٤﴾ سورة القلم
    Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS.68:04)

    Husnul khuluq (akhlak yang mulia) memunculkan rasa kasih sayang dan kelembutan. Sedang su’ul khuluq (akhlak yang buruk) membuahkan rasa saling benci, dengki dan memusuhi.

    Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menstimulasi agar berakhlak mulia (husnul khuluq) dan konsisten terhadapnya. Dimana beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menghimpun secara bersama antara penyebutan at-taqwa (ketakwaan) dan penyebutan husnul khuluq (akhlak yang mulia) ini. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

    « أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ ، تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ »
    “Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, (adalah) takwa kepada Allah dan husnul khuluq (berperilaku baik). ” (HR. At-Tirmidzi dan al-Hakim).

    Husnul khuluq itu adalah wajah yang berseri, memberikan kebajikan, menahan diri dari menyakiti manusia, beserta segala yang sudah sepatutnya bagi seorang muslim untuk bertutur kata yang baik dan menahan amarah serta sabar menanggung beban.

    Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mewasiatkan kepada Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dengan sebuah wasiat agung, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
    « عَلَيْكَ بِحُسْنِ الْخُلُقِ »

    “Wahai Abu Hurairah, seyogyanya anda untuk berperilaku baik (husnul khuluq).”
    Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Apakah husnul khuluq itu, wahai Rasulullah?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
    « تَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ، وَتَعْفُو عَمَّنْ ظَلَمَكَ، وَتُعْطِي مَنْ حَرَمَكَ »

    “Anda menyambung (tali persaudaraan kepada) orang yang memutuskan (hubungan dengan)mu, dan anda memaafkan (kesalahan atas) orang yang menzalimimu, dan anda memberi orang yang enggan memberi kepadamu.” (HR. Al-Baihaqi).

    Simaklah -wahai saudaraku yang mulia- sebuah pengaruh yang dahsyat dan ganjaran yang besar untuk pekerti yang mulia dan tabiat yang baik ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
    « إِنَّ الرَّجُلَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ الْخُلُقِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ »

    “Sesungguhnya seseorang dengan husnul khuluq akan memperoleh derajat ash-sha`im (ahli puasa) dan al-qa`im (ahli shalat malam).” (HR. Ahmad).

    Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menilai amalan husnul khuluq bagian dari (barometer) kesempurnaan iman. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
    « أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا »
    “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

    Seyogyanya anda sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :
    « أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعَهُمْ ، وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٍ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً ، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دِينًا ، أَوْ تُطْرَدُ عَنْهُ جُوعًا ، وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِي الْمُسْلِمِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي الْمَسْجِدِ شَهْرًا »
    “Manusia yang paling dicintai di sisi Allah adalah yang paling bermanfaat diantara mereka, dan amalan yang paling dicintai di sisi Allah (adalah) kebahagiaan yang anda masukkan ke (hati) seorang muslim, atau anda membebaskan kesusahannya, atau anda membayarkan hutangnya, atau anda menghilangkan rasa laparnya. Karena itu aku berjalan bersama saudaraku yang muslim dalam suatu keperluannya lebih aku sukai daripada aku beri’tikaf di masjid (yaitu: masjid Madinah, pent.) ini sebulan lamanya .” (HR. Thabrani).

    Seorang muslim diperintahkan untuk berkata halus dan lembut sehingga ucapannya tersebut menjadi amalan yang memberatkan timbangan kebajikannya. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
    « الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ »
    “Kata baik (yang terlontar terbilang) sedekah.” (Muttafaqun ‘Alaihi).

    Bahkan sebuah senyuman ringan yang tidak membebani seorang muslimpun dalam melakukannya, diberikan balasan. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :
    « تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيْكَ صَدَقَةٌ »
    “Senyummu terhadap saudaramu merupakan sebuah sedekah.” (HR. At-Tirmidzi).

    Pengarahan-pengarahan Nabi dalam menyemangati amalan husnul khuluq ini dan sikap menanggung derita beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang banyak dan populer, serta perjalanan hidupnya merupakan contoh hidup yang dapat dipetik dari sikap beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri terhadap dirinya, keluarga, tetangga, kalangan kaum muslimin yang lemah, orang-orang bodoh di antara mereka, bahkan terhadap orang kafir sekalipun. Allah Ta’ala berfirman :
    وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى ﴿٨﴾ سورة المآئدة
    Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. (QS.68:04)

    Sesungguhnya ciri-ciri perangai yang baik (husnul khuluq) itu terhimpun dalam berbagai sifat yang banyak. Maka kenalilah ciri-ciri tersebut –wahai saudara muslimku- dan konsistenlah dengannya. Secara umum, yaitu :

    Seorang yang banyak malu, sedikit menyakiti, banyak kebaikannya, jujur lisannya, sedikit bicaranya, banyak kerja, sedikit kekhilafan dan sikap berlebih-lebihannya. Seorang yang berbakti, suka memberi, berwibawa, penyabar, bersyukur, ridha, santun, lembut, menjaga diri, belas kasih. Tidak suka melaknat dan mencemooh, menghasut, ngerumpi, serta tidak tergesa-gesa, tidak pula dengki, pelit, apalagi hasad. Seseorang yang berwajah ramah dan periang, mencintai dan menyukai sesuatu karena Allah, serta membenci sesuatu karena Allah pula.

    Pangkal dari segala akhlak yang tercela (al-akhlaq al-madzmumah) adalah kesombongan, penghinaan dan peremehan. Sedangkan pangkal dari segala akhlak yang terpuji (al-akhlaq al-mahmudah) adalah khusyu’ dan kemauan yang kuat. Maka berbangga-banggan, kufur nikmat, berpoya-poya, takjub terhadap diri sendiri, dengki, sewenang-wenang, angkuh, zhalim, kasar dan arogan, pamer, enggan menerima nasihat, mementingkan diri sendiri, minta diangkat, gila kedudukan dan jabatan, dan lain sebagainya. Itu semua bersumber dari al-kibr (kesombongan).

    Adapun dusta, khianat, riya, muslihat, tipu daya, kerakusan, pengecut, kebakhilan, kelemahan, kemalasan, menghinakan diri kepada selain Allah, dan sikap mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik, dan lain sebagainya. Maka semua itu bersumber dari penghinaan dan peremehan serta kerdilnya jiwa.

    Sekiranya anda mencari ketakwaan, anda akan mendapati
    seorang lelaki membenarkan ucapannya dengan perbuatannya.
    Sekiranya seorang bertakwa kepada Allah dan menaati-Nya
    maka kedua tangannya diantara kemulian dan ketinggian akan ketakwaan.
    Sekiranya ia mengakar dalam ketakwaan

    Ada dua mahkota, mahkota ketenangan dan kebesaran
    Sekiranya anda menyebutkan nasab hubungan keturunan, maka saya tidak melihat
    silsilah hubungan (yang seerat) seperti (diantara hubungan) amal-amal shaleh.

    Saudara muslimku :
    Sesungguhnya dia adalah momentum mulia dimana anda dapat memperoleh ganjaran berperilaku dengan sifat-sifat yang baik, dan mengarahkan diri anda untuk menggenggamnya, dan bekerja keras dalam hal tersebut. Jauhi dan tinggalkanlah sifat iri dan benci, kekejian lisan, ketidakadilan, dan ghibah, mengadu domba, kikir, memutuskan tali silaturahmi. Aku terheran terhadap orang yang membersihkan wajahnya 5 (lima) kali sehari dalam rangka menyembut seruan Allah, namun ia enggan membersihkan dirinya sekali saja dalam setahun untuk sekedar menghilangkan berbagai daki-daki dunia yang melekat, serta kepekatan hati dan kemungkaran akhlaknya !!

    Berantusiaslah terhadap upaya melatih diri dari menahan amarah, dan gembirakanlah orang-orang sekitar anda, diantaranya kedua orangtua, istri dan anak-anak, para sahabat dan relasi dengan interaksi yang baik, tutur kata yang manis, muka yang berseri, dan berharaplah akan pahala pada segala hal demikian itu.

    Dan seyogyanya anda –Saudara muslimku- sebagaimana yang diwasiatkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam bahasa yang ringkas padat (al-jami’ah). Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
    « اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ »
    “Bertakwalah kepada Allah dimana pun anda berada, dan ikutilah keburukan dengan kebaikan yang akan menghapusnya, dan perlakukanlah manusia dengan perlakuan yang baik.” (HR. At-Tirmidzi).

    Semoga Allah menjadikan kita dan segenap kalian termasuk orang-orang yang disabdakan oleh Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :
    « إِنَّ أَقْرَبَكُمْ مِنِّى مَجْلِساً يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحْسَنُكُمْ خُلُقاً »
    “Sesungguhnya yang paling dekat kedudukan diantara kalian dariku pada hari Kiamat (adalah) yang paling baik akhlaknya diantara kalian.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

    Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu pengampunan, kesehatan, perlindungan selamanya. Ya Allah, baguskan akhlak-akhlak kami dan perindahilah perangai-perangai kami. Ya Allah sebagaimana Engkau telah membaguskan rupa kami, maka baguskanlah akhlak kami dengan segala karunia-Mu. Ya Rabb kami, ampunilah kami, kedua orangtua kami dan seluruh kaum muslimin. Semoga shalawat senantiasa tercurah atas Nabi kami, Muhammad, dan kepada keluarga dan segenap sahabatnya.

    http://www.islamhouse.com/p/249573
    ====================


    your comment
  • Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuhu…
    Bismillaahirrohmaanirrohiim

    Penyusun: Ummu Rumman
    Muraja’ah: Ust. Aris Munandar
    Saudariku, Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

    “Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling benci membenci, saling membelakangi, jangan menjual atas penjualan orang lain, dan jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara.

    Sesama Muslim itu bersaudara. Oleh karena itu, jangan menganiaya, merendahkannya, dan menghinanya. Taqwa itu ada di sini (sambil menunjuk dadanya, beliau mengucapkannya tiga kali).

    Seseorang cukup dianggap jahat apabila ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain haram mengganggu darah, harta dan kehormatannya.” (HR. Muslim)

    Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam mengatakan “Laa tahaasaduu…” atau janganlah kalian dengki antara satu dengan yang lain. Dengki adalah tidak senang kepada orang lain yang diberi nikmat oleh Allah. Misalnya, engkau tidak senang ketika Allah memberi nikmat kepada seseorang, baik yang berupa harta, keturunan, istri, ilmu, ibadah, maupun yang lainnya, baik kamu berharap agar nikmat itu hilang darinya maupun tidak. (Lihat Syarah Riyadush Shalihin, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin)

    Mungkin engkau akan mengatakan betapa sulitnya untuk tidak hasad. Bukankah setiap orang itu memiliki harapan, maka wajar dan manusiawi jika kemudian ia merasa iri karena nikmat yang ia harapkan justru didapat oleh orang lain. Dan siapa pula yang bisa terbebas dari rasa hasad?

    Saudariku, benarlah apa yang kau katakan. Membebaskan hati dari hasad adalah perkara yang sangat berat. Tidak akan terbebas darinya kecuali mereka yang dijaga Allah. Maka sungguh tepat apa yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, “Jasad tidak pernah kosong dari hasad, yang buruk adalah yang menampakkannya dan yang mulia adalah yang menyembunyikannya.”

    Allah memerintahkan kita di Al Qur’an surah Al Falaq ayat 5 agar kita berlindung kepada Allah dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki. Allah menyebutkan pendengki ini akan berpengaruh kedengkiannya tatkala ia dengki saja. Karena terkadang seseorang yang memiliki rasa dengki, tapi kemudian ia mendiamkannya, maka rasa dengkinya itu tidak akan menimbulkan pengaruh jahat.

    Maka, apa yang harus kita lakukan ketika hasad menyerang ???

    1. Mendiamkan dan menyembunyikannya.

    Janganlah sekali-kali engkau tampakkan rasa hasadmu, baik kepada orang yang engkau dengki maupun pada orang lain. Cegahlah agar jangan sampai hasadmu terwujud menjadi usaha untuk menghilangkan nikmat dari orang yang engkau dengki. Baik hanya sekedar menghilangkan atau agar nikmat itu berpindah pada dirimu. Ketahuilah, ini adalah sejelek-jelek hasad!

    2. Berdoa memohon kepada Allah agar hasad itu dihilangkan dari hati kita.

    Bagaimanapun rasa hasad tidak boleh dibiarkan tetap ada. Karena bisa jadi ketika iman kita sedang lemah, maka setan akan berupaya agar kita berbuat jahat disebabkan rasa hasad tersebut.

    “Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Qs. al-Hasyr: 10)

    3. Berusaha ridho dengan takdir Allah.

    Orang yang hasad berarti ia menentang takdir dan ketetapan Allah. Setiap manusia yang lahir ke dunia, telah Allah tetapkan rezekinya. Dan sesungguhnya Allah membagi rezekidan nikmat-Nya dengan ilmu-Nya. Dengan hikmah-Nya Allah Memberi kepada siapa saja yang Dia hendaki, dan dengan keadilan-Nya Dia tidak memberi kepada siapa saja yang Dia hendaki. Dia berbuat sekehendak-Nya, namun tidaklah sekali-kali Dia mendzalimi hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya,

    “Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (Qs. Al Furqon: 2)

    Saudariku, pupuklah rasa qona’ah dan syukur dalam dirimu. Janganlah engkau resah dengan sesuatu yang memang bukan untukmu. Apa yang diberikan Allah untukmu, itulah yang terbaik untukmu. Apa yang tidak diberikan Allah, bisa jadi memang bukan hal yang kita butuhkan, bahkan bisa menimbulkan kemudharatan bagi kita. Kita memohon kepada Allah hati, lisan dan badan yang senantiasa bersyukur atas nikmat-Nya. Kita memohon pula agar Allah menjadikan hati kita ridha dengan takdir-Nya.

    4. Berbuat baik kepada orang yang kita dengki
    Tersenyumlah! Pasanglah wajah yang cerah, ucapkan salam dan ucapkanlah perkataan yang baik padanya! Saudariku, berbuat baik kepada orang yang kita dengki memang perkara yang sulit, tetapi insya Allah ini adalah salah satu obat mujarab untuk mengobati penyakit hasad di hatimu.

    Semakin engkau merasa penyakit hasadmu bertambah parah, maka berusahalah untuk semakin bersikap baik padanya. Awalnya memang terasa sulit dan harus dipaksakan. Tapi begitulah, meski pahit tetapi ia menyembuhkan. Bahkan bila engkau mau, berilah ia hadiah. Karena hadiah bisa lebih mendekatkan hubungan. Jika engkau tidak mampu, maka ada hadiah lain yang tak kalah istimewa. Doakanlah kebaikan baginya. Dan semoga engkau pun akan mendapatkan kebaikan sebagaimana kebaikan yang engkau inginkan bagi dirinya.

    Tanamkan dalam hati kewajiban menginginkan untuk saudaramu sesama muslim yang kita inginkan untuk diri kita sendiri, sehingga seharusnya ia turut bahagia ketika melihat saudaranya mendapatkan nikmat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Tidaklah seorang dari kalian sempurna imannya sampai mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” (Muttafaqun Alaihi)

    Ibnu Rajab berkata, “Dan yang demikian itu termasuk tingkatan iman yang tertinggi, dan pelakunya adalah orang yang sempurna imannya, yang mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya.”

    5. Jadikanlah surga dan ridha Allah sebagai cita-cita tertinggimu.

    Salah satu sebab hasad adalah karena kesempitan hati yang lebih memandang dunia. Karena itu, cara mengobatinya adalah berusaha zuhud dengan dunia dan membawa diri ke alam akhirat. Ambillah dunia hanya sebatas kebutuhan serta hanya digunakan dalam rangka berbuat ketaatan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,

    “Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Qs. Thoha: 131)

    Ketika seorang muslimah telah menjadikan ridha Allah sebagai tujuan hidupnya, maka buat apa lagi ia hasad terhadap nikmat yang didapat orang lain. Karena pikiran, hati dan tubuhnya telah tersibukkan dengan upaya untuk mendapatkan ridha Allah, mendapatkan keselamatan di akhirat serta mendapatkan kenikmatan Surga. Surga, yang luasnya seluas langit dan bumi. Surga, yang di dalamnya tersimpan berbagai kenikmatan yang menyedapkan mata.

    Sesungguhnya memelihara hasad hanya akan merugikan diri kita sendiri. Ia hanyalah akan menjadi penambah beban hati. Maka, buanglah ia jauh-jauh dari hati. Hidup dengan hati yang qona’ah dan selalu bersyukur dengan nikmat Allah … Inilah yang lebih indah dan menentramkan.

    Saudariku, setiap dari kita sangat menginginkan surga. Maka, jadikanlah usahamu untuk membebaskan diri dari hasad adalah salah satu usaha untuk menggapainya. Sebagaimana seorang sahabat yang disebut-sebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai penghuni surga. Ternyata, kedudukan mulia itu didapatnya karena kebersihan hatinya dari hasad terhadap nikmat orang lain. Wallahu Ta’ala a’lam.

    Maraji’:
    MP3 Kajian “Bala Hasad” oleh ustadz Armen Halim Naro
    Syarah Riyadhush Shalihin (edisi Terjemah), Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, penerbit Darul Falah
    Tafsir Surat al Falaq (Ust. Muhammad Aunus Shofy), Majalah Al Mawaddah edisi ke-7 tahun ke-1

    ***

    Artikel muslimah.or.id


    your comment
  • Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuhu...
    Bismillaahirrohmaanirrohiim ....

    PASAL PERTAMA
    ADAB PENUNTUT ILMU DALAM DIRINYA SENDIRI

    1. Ilmu adalah ibadah:
    Dasar dari segala dasar dalam 'bekal', bahkan untuk segala perkara yang dicari adalah engkau mengetahui bahwa ilmu adalah ibadah, dan atas dasar itu maka syarat ibadah adalah:

    1) Ikhlas karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala , berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :
    وَمَآ أُمِرُوْ~ا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْااللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَآءَ
    Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah SWT dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus,. (QS. al-Bayyinah:5)

    Dan dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallama bersabda: 'Sesungguhnya segala amal disertai niat...'
    Maka jika ilmu sudah kehilangan niat yang ikhlas, ia berpindah dari ketaatan yang paling utama kepada kesalahan yang paling rendah dan tidak ada sesuatu yang meruntuhkan ilmu seperti riya, sum'ah dan yang lain nya.

    Atas dasar itulah, maka engkau harus membersihkan niatmu dari segala hal yang mencemari kesungguhan menuntut ilmu, seperti ingin terkenal dan melebihi teman-teman. Maka sesungguhnya hal ini dan semisalnya, apabila mencampuri niat niscaya ia merusaknya dan hilanglah berkah ilmu. Karena inilah engkau harus menjaga niatmu dari pencemaran keinginan selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala , bahkan engkau menjaga daerah terlarang.

    2) Perkara yang menggabungkan kebaikan dunia dan akhirat: yaitu cinta kepada Allah SWT dan rasul-Nya dan merealisasikannya dengan mutaba'ah dan mengikuti jejak langkah beliau.


    2. Jadilah engkau seorang salaf:
    Jadikanlah dirimu seorang salaf yang sungguh-sungguh, jalan salafus shalih dari kalangan sahabat radhiyallahu 'anhum dan generasi selanjutnya yang mengikuti jejak langkah mereka dalam semua bab agama dalam bidang tauhid, ibadah dan lainnya.

    3. Selalu takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala :
    Berhias diri dengan membangun lahir dan batin dengan sikap takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala , menjaga syi'ar-syi'ar islam, menampakkan sunnah dan menyebarkannya dengan mengamalkan dan berdakwah kepadanya.
    Hendaklah engkau selalu takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam kesendirian dan bersama orang banyak.

    Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala , dan tidak takut kepada-Nya kecuali orang yang berilmu. Dan jangan hilang dari ingatanmu bahwa seseorang tidak dipandang alim kecuali apabila ia mengamalkan, dan seorang alim tidak mengamalkan ilmunya kecuali apabila ia selalu takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala .

    4. Senantiasa muraqabah:
    Berhias diri dengan senantiasa muraqabah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam kesendirian dan kebersamaan, berjalan kepada Rabb-nya di antara sikap khauf (takut) dan raja` (mengharap), bagi seorang muslim kedua sifat itu bagaimana dua sayap bagi burung.

    5. Merendahkan diri dan membuang sikap sombong dan takabur:
    Hiasilah dirimu dengan adab jiwa, berupa sikap menahan diri dari meminta, santun, sabar, tawadhu terhadap kebenaran, sikap tenang dan rendah diri, memikul kehinaan menuntut ilmu untuk kemuliaan ilmu, berjuang untuk kebenaran. Jauhilah sikap sombong, sesungguhnya ia adalah sikap nifak dan angkuh. Salafus shalih sangat menjauhi sikap tercela tersebut.

    Jauhilah penyakit sombong, maka sesungguhnya sikap sombong, tamak dan dengki adalah dosa pertama yang dilakukan terhadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala . Sikap congkakmu terhadap gurumu adalah sikap sombong. Sikap engkau meremehkan orang yang memberi faedah kepadamu dari orang yang lebih rendah darimu adalah sikap sombong. Kelalainmu dalam mengamalkan ilmu merupakan tanda kesombongan dan tanda terhalang.

    6. Qana'ah dan zuhud:
    Berbekal diri dengan sikap qana'ah (merasa cukup dengan yang ada) dan zuhud. Hakikat zuhud adalah: Enggan terhadap yang haram, menjauhkan diri dari segala syubhat dan tidak mengharapkan apa yang miliki orang lain. Dan atas dasar itulah, hendaklah ia sederhana dalam kehidupannya dengan sesuatu yang tidak merendahkannya, di mana dia dapat menjaga diri dan orang yang berada dalam tanggungannya, dan tidak mendatangi tempat-tempat kehinaan.

    7. Berhias diri dengan keindahan ilmu:
    Diam yang baik dan petunjuk yang shalih berupa ketenangan, khusyuk, tawadhu', tetap dalam tujuan dengan membangun lahir dan batin dan meninggalkan yang membatalkannya.

    8. Berbekal diri dengan sikap muru`ah:
    Berbekal diri dengan sikap muru`ah dan yang membawa kepadanya berupa akhlak yang mulia, bermuka manis, menyebarkan salam, sabar tergadap manusia, menjaga harga diri tanpa bersikap sombong, berani tanpa sikap fanatisme, bersemangat tinggi bukan atas dasar kebodohan.

    Oleh karena itu, tinggalkanlah sifat yang merusak muru`ah (kesopanan) berupa pekerjaan yang hina atau teman yang rendah seperti sifat ujub, riya, sombong, takabur, merendahkan orang lain dan berada di tempat yang meragukan.

    9. Bersikap jantan termasuk sikap berani.
    Keras dalam kebenaran dan akhlak yang mulia, berkorban di jalan kebaikan sehingga harapan orang menjadi terputus tanpa keberadaanmu.
    Atas dasar itu, hindarilah lawannya berupa jiwa yang lemah, tidak penyabar, akhlak yang lemah, maka ia menghancurkan ilmu dan memutuskan lisan dari ucapan kebenaran.

    10. Meninggalkan kemewahan:
    Jangan terlalu berlebihan dalam kemewahan, maka sesungguhnya 'kesederhanaan termasuk bagian dari iman', ingatlah wasiat Umar bin Khathab RA: 'Jauhilah kenikmatan, pakaian bangsa asing, dan bersikaplah sederhana dan kasar...'

    Atas dasar itulah, maka jauhilah kepalsuan peradaban, sesungguhnya ia melemahkan tabiat dan mengendurkan urat saraf, mengikatmu dengan benang ilusi. Orang-orang yang serius sudah mencapai tujuan mereka sedangkan engkau tetap berada di tempatmu, sibuk memikirkan pakaianmu...

    Hati-hatilah dalam berpakaian karena ia mengungkapkan pribadimu bagi orang lain dalam berafiliasi, pembentukan dan perasaan. Manusia mengelompokkan engkau dari pakaianmu. Bahkan, tata cara berpakain memberikan gambaran bagi yang melihat golongan orang yang berpakaian berupa ketenangan dan berakal, atau keulamaan atau kekanak-kanakan dan suka menampilkan diri.

    Maka pakailah sesuatu yang menghiasimu, bukan merendahkanmu, tidak menjadikan padamu ucapan bagi yang berkata (maksudnya, orang lain tidak memberikan komentar, pent.) dan ejekan bagi yang mengejek.
    Jauhilah pakaian kekanak-kanakan, tidak berarti kamu memakai pakaian yang tidak jelas, akan tetapi sederhana dalam berpakaian dalam gambaran syara', yang diliputi tanda yang shalih dan petunjuk yang baik.

    11. Berpaling dari majelis yang sia-sia:
    Janganlah engkau berkumpul dengan orang-orang yang melakukan kemungkaran di majelis mereka, menyingkap tabir kesopanan. Maka sesungguhnya dosamu terhadap ilmu dan pemiliknya sangat besar.

    12. Berpaling dari kegaduhan
    Memelihara diri dari keributan dan kegaduhan, maka sesungguhnya berada atau suka dalam sebuah kegaduhan atau keributan bertentangan dengan adab menuntut ilmu.

    13. Berhias dengan kelembutan:
    Hendaklah selalu lembut dalam ucapan, menjauhi kata-kata yang kasar, maka sesungguhnya ungkapan yang lembut menjinakkan jiwa yang membangkang.

    14. Berpikir:
    Berhias dengan merenung, maka sesungguhnya orang yang merenung niscaya mendapat, dan dikatakan: renungkanlah niscaya engkau mendapat.

    15. Teguh dan kokoh:
    Berhiaslah dengan sikap teguh dan kokoh, terutama di dalam musibah dan tugas penting. Dan di dalamnya: sabar dan teguh di saat tidak bertemu dalam waktu yang lama dalam menuntut ilmu dengan para guru, maka sesungguhnya orang yang teguh akan tumbuh.

    http://www.islamhouse.com/p/265802
    ========


    your comment


    Follow this section's article RSS flux
    Follow this section's comments RSS flux