• - Kilauan Mutiara Bab 7 - 8

    Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuhu...
    Bismillaahirrohmaanirrohiim ....

    BAB 7 : Sebab-Sebab Hilangnya Agama

    --------------------------------------------------------------------------------


    56. Abdullah bin Ad Dailamy berkata :
    “Sesungguhnya sebab pertama hilangnya agama ini adalah meninggalkan As Sunnah. Agama ini akan hilang sunnah demi sunnah sebagaimana lepasnya tali seutas demi seutas.” (Al Lalikai 1/93 nomor 127, Ad Darimy 1/58 nomor 97, dan Ibnu Wadldlah dalam Al Bida’ 73)


    57. Ia juga berkata, saya mendengar Amru berkata :
    “Tidaklah dilakukan suatu bid’ah melainkan akan bertambah cepat berkembangnya dan tidaklah ditinggalkan As Sunnah kecuali bertambah cepat hilangnya.” (Al Lalikai 1/93 nomor 128 dan Ibnu Wadldlah 73)


    58. Dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu 'anhu ia berkata :
    “Ketahuilah hendaknya jangan satupun dari kalian bertaqlid kepada siapapun dalam perkara agamamu sehingga (bila) ia beriman ikut beriman bila ia kafir ikut pula menjadi kafir. Maka jika kamu tetap ingin berteladan maka ambillah contoh dari yang telah mati sebab yang masih hidup tidak aman dari fitnah.” (Al Lalikai 1/93 nomor 130 dan Al Haitsamy dalam Al Majma’ 1/180)


    59. Al Auza’i menyebutkan dari Hassan bin Athiyyah, ia berkata :
    “Tidaklah suatu kaum berbuat satu bid’ah dalam Dien mereka melainkan Allah cabut dari mereka satu Sunnah yang semisalnya dan tidak akan kembali kepada mereka sampai hari kiamat.” (Ad Darimy 1/58 nomor 98)


    60. Dari Yunus bin Zaid dari Az Zuhri ia berkata :
    “Ulama kami yang terdahulu selalu mengingatkan bahwa berpegang teguh dengan As Sunnah itu adalah keselamatan dan ilmu akan tercabut dengan segera maka tegaknya ilmu adalah kekokohan agama dan dunia sedang dengan hilangnya ilmu hilang pula semuanya.” (Ad Darimy 1/58 nomor 16)

     

    BAB 8 : Jeleknya Ahli Ahwa’ dan Ahli Bid’ah

    --------------------------------------------------------------------------------

    61. Dari Abi Hurairah radliyallahu 'anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
    “Akan ada di akhir zaman nanti para dajjal dan pendusta, mereka mendatangimu dengan hadits-hadits yang belum pernah didengar oleh kamu dan bapak-bapak kamu maka hati-hatilah kamu dari mereka, mereka jangan sampai menyesatkan kamu dan menimbulkan fitnah terhadapmu.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah 7)


    62. Dari Khalid bin Sa’d ia berkata bahwa menjelang wafatnya Hudzaifah bin Al Yaman datang kepadanya Abu Mas’ud Al Anshary --radliyallahu anhuma-- lalu berkata :
    “Hai Abu Abdillah, berpesanlah untuk kami.” Hudzaifah berkata : “Bukankah telah datang kepadamu perkara yang yaqin, ketahuilah sesungguhnya kesesatan itu benar-benar kesesatan kalau kamu anggap ma’ruf (baik) apa yang sebelumnya kamu ingkari dan mengingkari apa yang telah kamu ketahui, hati-hatilah kamu dari sikap berbeda-beda (berpecah-belah, pent.) dalam agama Allah karena sesungguhnya agama Allah ini hanya satu.” (Al Hujjah fi Bayanil Mahajjah 1/33 dan Al Lalikai 1/90 nomor 120)


    63. Dari Abi Qilabah dari Zaid bin Umairah ia berkata, Mu’adz bin Jabbal berkata :
    “Hai manusia, sesungguhnya akan terjadi fitnah yang pada waktu itu harta benda berlimpah, Al Quran terbuka (tersebar) hingga mudah dibaca oleh seorang Mukmin, munafiq, pria dan wanita, anak-anak kecil maupun orang dewasa sampai-sampai seseorang berkata :


    ‘Kita telah membaca Al Quran tapi tidak ada yang mau mengikuti, tidakkah sebaiknya kita bacakan terang-terangan kepada mereka?’
    Maka mereka membacanya terang-terangan dan tetap tidak ada satupun yang mengikutinya maka ia berkata :


    ‘Saya telah membacanya terang-terangan tidak ada juga yang mengikutiku.’
    Lalu ia membangun tempat shalat di rumahnya lalu mengucapkan perkataan bid’ah yang bukan dari Kitab Allah bahkan tidak juga dari Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam maka hati-hatilah kamu dari bid’ahnya karena sesungguhnya bid’ah itu sesat.” (Al Lalikai 1/89 nomor 117, Al Hujjah 1/303, Ibnu Wadldlah 33, dan Abu Daud 4611)


    64. Dari Ashim Al Ahwal ia berkata, Abul Aliyah berkata :
    “Pelajarilah Al Islam! Maka jika telah kamu pelajari janganlah kamu membencinya dan tetaplah kamu di atas shirathal mustaqim karena itulah sesungguhnya Al Islam dan jangan kamu menyimpang ke kanan dan ke kiri.

    Dan berpeganglah dengan Sunnah Nabimu Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan apa yang dipegang oleh kaum Muslimin sebelum mereka membunuh shahabat mereka sendiri (Utsman bin Affan) dan sebelum mereka berbuat apa yang telah mereka perbuat. Maka sesungguhnya kami telah membaca Al Quran sebelum mereka berselisih (saling memerangi) dan sebelum mereka melakukan apa yang telah mereka lakukan selama 15 tahun. Dan berhati-hatilah kamu dari hawa nafsu ini yang senantiasa menimbulkan permusuhan dan kebencian di tengah-tengah manusia.”
    Kemudian saya sampaikan hal ini kepada Al Hasan Al Bashry, katanya :
    “Ia benar dan telah memberi nasihat.”

    Dan saya ceritakan pula kepada Hafshah bintu Sirin, katanya :
    “Keluargaku tebusanmu, apakah telah kau sampaikan kepada Muhammad (Ibnu Sirin) cerita ini?”
    Saya menjawab tidak (belum). Lalu katanya :
    “Jika begitu sampaikanlah kepadanya!” (As Sunnah Ibnu Nashr 13 nomor 26, Al Ibanah 1/299 nomor 136, Al Lalikai 1/56, 127 nomor 17, 214)

     

    BAB 9 : Peringatan Bahayanya Duduk Dengan Ahli Bid’ah dan Ahli Ahwa serta Bergaul dan Berjalan Bersama Mereka 

    --------------------------------------------------------------------------------


    65. Al Fudlail bin Iyyadl berkata :
    “Siapa yang duduk dengan ahli bid’ah maka berhati-hatilah darinya dan siapa yang duduk dengan ahli bid’ah tidak akan diberi Al Hikmah. Dan saya ingin jika antara saya dan ahli bid’ah ada benteng dari besi yang kokoh. Dan saya makan di samping yahudi dan nashrani lebih saya sukai daripada makan di sebelah ahli bid’ah.” (Al Lalikai 4/638 nomor 1149)


    66. Hanbal bin Ishaq berkata, saya mendengar Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata :
    “Tidak pantas seseorang itu bersikap ramah kepada ahli bid’ah, duduk dan bergaul dengan mereka.” (Al Ibanah 2/475 nomor 495)


    67. Dari Habib bin Abi Az Zabarqan ia berkata, Muhammad bin Sirin apabila mendengar ucapan ahli bid’ah, menutup telinganya dengan jarinya kemudian berkata :
    “Tidak halal bagiku mengajaknya berbicara sampai ia berdiri dan meninggalkan tempat duduknya.” (Al Ibanah 2/473 nomor 484)


    68. Seorang ahli ahwa’ berkata kepada Ayyub As Sikhtiyani :
    “Hai Abu Bakr, saya ingin bertanya tentang satu kalimat.”
    Beliau menukas --sambil berisyarat dengan jarinya-- :
    “Tidak, meskipun setengah kalimat. Tidak, meskipun setengah kalimat.” (Al Ibanah 2/447 nomor 402)


    69. Imam Ahmad berkata dalam risalahnya untuk Musaddad :
    “Jangan kamu bermusyawarah dengan ahli bid’ah dalam urusan agamamu dan jangan jadikan dia teman dalam safarmu (bepergian).” (Al Adabus Syari’ah Ibnu Muflih 3/578)


    70. Ibnul Jauzy berkata :
    “Allah, Allah. Janganlah berteman dengan mereka ini (ahli bid’ah). Dan wajib kamu cegah anak-anak kecil bergaul dengan mereka agar jangan terpatri sesuatu (perkara bid’ah) dalam hati mereka dan jadikan mereka sibuk (mempelajari) hadits- hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam agar watak mereka terbentuk di atasnya.” (Ibid 3/577-578)


    71. Imam Al Barbahary berkata :
    “Apabila tampak bagimu satu perkara bid’ah pada seseorang maka jauhilah dia sebab sesungguhnya yang dia sembunyikan darimu jauh lebih banyak dari yang dia tampakkan.” (Syarhus Sunnah 123 nomor 148)


    72. Dan kata beliau :
    “Perumpamaan ahli bid’ah itu seperti kalajengking, mereka menyembunyikan kepala dan badan mereka di dalam tanah dan mengeluarkan ekornya maka jika mereka telah mantap dengan posisinya maka mereka menyengat mangsanya. Demikian pula ahli bid’ah, mereka menyembunyikan bid’ah di tengah-tengah manusia lalu apabila mereka telah mantap dengan kedudukannya mereka sampaikan apa yang mereka inginkan.” (Thabaqat Hanabilah 2/44)


    Saya (Jamal bin Farihan) katakan, demikianlah keadaan Ikhwanul Muslimin (dan kelompok dakwah sempalan lainnya, pent.) mereka mencari kedudukan dan jika telah mantap posisi mereka maka mulailah mereka melancarkan tindakan-tindakan dalam menyelisihi Ahlus Sunnah.


    Tags Tags: , ,
  • Comments

    No comments yet

    Suivre le flux RSS des commentaires


    Add comment

    Name / User name:

    E-mail (optional):

    Website (optional):

    Comment: