• - Kilauan Mutiara Bab 22-24

    Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuhu...
    Bismillaahirrohmaanirrohiim ....

    BAB 22 : Adakah Taubat Bagi Ahli Bid’ah?

    --------------------------------------------------------------------------------

    211. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
    “Sesungguhnya Allah menghalangi taubat dari ahli bid’ah.” (Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah nomor 1620)


    212. Dari Abu Amru Asy Syaibani ia berkata :
    “Selalu dikatakan bahwa Allah enggan (menolak) memberi taubat kepada ahli bid’ah dan ia tidak berpindah kecuali menuju yang lebih jelek lagi.” (Ibnu Wadldlah 61 dan 62)


    213. Dari Ibnu Syaudzab ia berkata, saya mendengar Abdullah bin Al Qasim berkata :
    “Tidaklah seorang hamba yang berada di atas hawa nafsu lalu ia meninggalkannya melainkan ia berpindah kepada yang lebih jelek lagi.”

    Kemudian saya menyebutkan hadits ini (hadits pada poin 211) kepada sebagian shahabat kami lalu katanya :
    [ Pembenarannya terdapat dalam hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam yang mengatakan :
    Mereka lepas dari agama ini seperti lepasnya panah (menembus keluar) dari sasarannya dan tidak akan kembali sampai mati.” ] (Ibnu Wudldlah : 61-62)


    214. Dari Hammad bin Zaid dari Ayyub ia berkata, ada seseorang yang berpendapat dengan satu pendapat lalu kembali dan meninggalkannya maka saya mendatangi Muhammad (bin Sirin) dengan gembira untuk menyampaikan berita ini kepada beliau dan mengatakan : “Bagaimana perasaanmu bahwa si Fulan telah meninggalkan pemikirannya yang selama ini dianutnya?”

    Beliau menjawab : “Perhatikanlah ke mana dia berpindah, sesungguhnya penutup hadits (tentang Khawarij, ed.) ini lebih keras lagi terhadap mereka dibanding awalnya yaitu mereka lepas dari agama Islam dan tidak akan kembali kepadanya.” (Ibid)


    215. Dari Mu’awiyah bin Shalih (ia mengatakan) bahwa Al Hasan bin Abil Hasan Al Bashry berkata :
    “Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi enggan memberi izin ahli bid’ah untuk bertaubat.” (Al Lalikai 1/141 nomor 285)


    216. Seseorang berkata kepada Ayyub : “Hai Abu Bakr, sesungguhnya Amru bin Ubaid sudah kembali meninggalkan pemikirannya.”
    Beliau berkata : “Sesungguhnya ia tidak akan kembali.”
    Orang itu berkata lagi : “Benar. Sungguh ia telah kembali!”
    Ayyub berkata pula :

    [ Sungguh dia tidak akan kembali --diulanginya tiga kali--. Ketahuilah bahwa dia tidak akan kembali. Tidakkah kamu mendengar sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam (ketika beliau berkata) :
    “Mereka lepas dari agama ini seperti keluarnya anak panah dari buruannya (sasarannya) yang kemudian tidak akan kembali sampai mati.” ] (Al Lalikai nomor 286)


    217. Abdullah bin Al Mubarak berkata :
    “Wajah ahli bid’ah itu diliputi kegelapan (tidak bercahaya) meskipun ia meminyakinya sehari tiga kali.” (Al Lalikai nomor 284)


    218. Dari Ibnul Mubarak dari Al Auza’i dari Atha’ Al Khurasani sesungguhnya ia berkata :
    “Hampir-hampir Allah itu tidak mengizinkan ahli bid’ah itu taubat.” (Al Lalikai 283)


    219. Sufyan Ats Tsaury berkata :
    “Bid’ah itu lebih dicintai iblis daripada kemaksiatan karena (pelaku) maksiat dapat (diharapkan) bertaubat sedangkan (pelaku) bid’ah tidak dapat (diharapkan) untuk bertaubat.” (Majmu’ Fatawa 11/372)

     

    BAB 23 : Sebab-Sebab Jatuhnya Seseorang Kepada Bid’ah Dan Hawa Nafsu

    --------------------------------------------------------------------------------


    220. Ibnu Baththah Al Ukbary berkata :
    “Saya pernah melihat sekelompok manusia yang dahulunya melaknat dan mencaci ahli bid’ah lalu mereka duduk bersama ahli bid’ah untuk mengingkari dan membantah mereka dan terus menerus orang-orang itu bermudah-mudah sedangkan tipu daya itu sangat halus (tersamar) dan kekafiran sangat lembut (merambat) dan akhirnya tercurah kepada mereka.” (Al Ibanah 2/470)


    221. Muhammad bin Al Ala’ Abu Bakr menceritakan kepada kami dari Mughirah ia berkata, Muhammad bin As Saib keluar --dan ia bukan ahli bid’ah-- ia berkata :
    “Pergilah bersama kami sampai kita mendengar ucapan mereka (ahli bid’ah)”, maka ia tidak kembali sampai akhirnya ia menerima kebid’ahan itu dan hatinya terikat dengan ucapan mereka.” (Al Ibanah 2/470 nomor 476-477 dan Tahdzibut Tahdzib 8/113)


    222. Al Ashma’i berkata :
    “Mu’tamir menceritakan kepada kami dari Utsman Al Buty, ia berkata bahwa Imran bin Haththan adalah seorang Sunniy lalu datang pelayan dari penduduk Amman seperti bighal (seorang mubtadi’, ed.) maka ia membalikkan hatinya di tempat duduknya (berubah saat itu juga, ed.).” (Bayan Fadlli Ilmis Salaf halaman 36)


    223. Abu Hatim berkata, diceritakan kepadaku dari Abu Bakr bin Ayyasy, ia berkata, Mughirah mengatakan bahwa Muhammad bin As Saib berkata :
    “Marilah kita menuju ke tempat orang Murjiah agar mendengar ucapan mereka.”
    (Kata Mughirah) akhirnya ia tidak kembali sampai hatinya terpaut dengan ucapan itu. (Al Ibanah 2/462-471 nomor 449 dan 480)

     

    BAB 24 : Pedoman Agar Tidak Jatuh Kepada Kebid’ahan Dan Hawa Nafsu  

    --------------------------------------------------------------------------------


    224. Ahmad bin Abil Hawary berkata, Abdullah bin As Sariy --seorang yang khusyu’ dan belum pernah saya dapati orang yang lebih khusyu’ daripadanya-- ia berkata :
    “Bagi kami bukanlah dikatakan Sunnah jika kamu membantah ahli bid’ah namun Sunnah itu adalah bahwa kamu tidak mengajak ahli bid’ah berbincang-bincang.” (Al Ibanah 2/471 nomor 478 dan 479)


    225. Hammad bin Zaid dari Ayyub ia berkata :
    “Tidak ada bantahanku terhadap mereka yang lebih keras daripada diamku (tidak mengajak mereka berbicara, ed.).” (Ibid)


    226. Abu Abdillah bin Baththah berkata :
    [ Allah, Allah, wahai kaum Muslimin, janganlah ada seorang pun dari kalian yang terbawa oleh sikap baik sangka terhadap dirinya sendiri atau oleh pengetahuannya tentang madzhab yang benar untuk (mencoba) masuk ke dalam bahaya yang mengancam agamanya (seandainya) ia duduk dengan ahli bid’ah lalu ia berkata :
    “Saya akan menemui mereka untuk mematahkan hujjah mereka atau saya akan membuat mereka keluar dari madzhab mereka yang rusak ini.”
    Sebab sesungguhnya ahli bid’ah itu lebih berbahaya dari dajjal dan ucapan mereka lebih melekat dari penyakit kudis bahkan lebih membakar dari lidah api. ] (Ibid)


    227. Imam Ahmad berkata :
    “Yang selalu kami dengar dan kami dapatkan dari uraian Ahli Ilmu bahwa mereka sangat membenci perbincangan dan duduk dengan ahli zaigh dan sesungguhnya perkara penting dalam agama ini adalah sikap menerima (tunduk) dan kembali kepada apa yang terdapat dalam Al Quran dan As Sunnah bukan duduk-duduk dengan ahli bid’ah dan ahli zaigh untuk membantah argumentasi mereka karena sesungguhnya mereka tentu akan mengelabui kamu sedangkan mereka tidak akan kembali (kepada yang haq). Maka yang selamat --Insya Allah-- adalah dengan meninggallkan majelis mereka dan tidak membahas bid’ah dan kesesatan mereka.” (Al Ibanah 2/472 nomor 481)


    Tags Tags:
  • Comments

    No comments yet

    Suivre le flux RSS des commentaires


    Add comment

    Name / User name:

    E-mail (optional):

    Website (optional):

    Comment: